Misi
ruang angkasa tidaklah mudah. Selain persiapan teknis yang detail,
misi yang dapat berjalan selama berbulan-bulan itu juga harus
mempertimbangkan pasokan makanan. Makanan yang dibutuhkan harus
bergizi dan diharapkan dapat bertahan lebih lama dari misi itu.
Untuk
itu, Badan Antariksa AS (NASA) telah menggelontorkan dana hibah yang
bisa mengembangkan makanan khusus bagi para astronot, makanan
berbentuk 3D, Space
melansir,
22 Mei 2013.
Di masa mendatang, NASA berharap teknologi
makanan khusus itu dapat memasok makanan astronot dalam jangka waktu
yang lebih lama.
"Perjalanan jarak jauh ruang angkasa
membutuhkan 15 tahun umur penyimpanan makanan," kata Anjan
Contractor, insinyur mekanik senior di Systems
and Materials Research Corporation (SMRC),
yang berbasis di Austin, Texas.
Contractor menerima dana
hibah senilai US$ 125.000, setara Rp1,2 miliar, dari NASA untuk
mengembangkan prototipe makanan sintesis itu.
Dia membeberkan
makanan khusus itu akan diramu dalam bentuk bubuk dan bisa bertahan
dua kali lipat dari usia penyimpanan makanan.
"Caranya,
semua karbohidrat, protein dan nutrisi makro dan mikro dalam bentuk
bubuk. Kami mengeluarkan kelembaban dan dalam bentuk itu, makanan
diperkirakan akan bertahan hingga 30 tahun," jelas
Contractor.
Soal gizi, tak perlu khawatir. Secara teori,
membagi berbagai komponen makanan dalam bentuk bubuk memungkinkan
pengguna untuk mencampur makanan secara bersamaan.
Contractor
mengaku sudah siap mencetak pizza 3D. Ia memulai pembuatan pizza
dengan selembar adonan, kemudian diikuti lapisan saus tomat, yang
terdiri dari bubuk dicampur dengan minyak dan air. Terakhir, pizza
dilengkapi dengan lapisan protein, yang berasal dari hewan, susu atau
tumbuhan.
Sementara NASA melihat makanan itu sebagai pasokan
misi ruang angkasa di masa depan, Contractor melihatnya lebih dari
itu. Ia menambahkan makanan sintesis itu bisa jadi cara efektif untuk
mengatasi masalah kekurangan makanan.
"Saya dan banyak
ekonom berpikir, sistem pangan saat ini tidak cukup memasok bagi 12
miliar orang," ujarnya. "Jadi, kita harus mengubah persepsi
tentang apa yang kita lihat sebagai makanan," ujar Contractor.